Artikel Edukasi
18 June 2026
5 menit
Tim Yayasan Bumi Pertiwi Asri

Indonesia Darurat Sampah Laut, Siapa yang Salah?

Indonesia Darurat Sampah Laut, Siapa yang Salah?

Bumi Pertiwi Asri – Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17.000 pulau dan garis pantai sepanjang sekitar 108.000 kilometer. Namun, kekayaan laut yang dimiliki saat ini menghadapi ancaman serius berupa pencemaran sampah laut, terutama sampah plastik.

Penelitian dari BRIN menunjukkan bahwa Indonesia termasuk salah satu penyumbang sampah plastik ke laut terbesar di dunia. Diperkirakan ratusan ribu hingga jutaan ton sampah plastik masuk ke perairan Indonesia setiap tahunnya, sebagian besar berasal dari daratan yang terbawa melalui sungai menuju laut. Sekitar 80% sampah laut berasal dari daratan, dengan plastik mendominasi hingga 70–80% total sampah laut.

Beberapa fakta penting: Indonesia menghasilkan lebih dari 60 juta ton sampah per tahun dan sebagian belum terkelola dengan baik. Sungai-sungai besar seperti Citarum, Bengawan Solo, Brantas, Musi, dan Kapuas menjadi jalur utama sampah menuju laut. Mikroplastik telah ditemukan pada ikan, kerang, garam laut, bahkan air minum (sumber: SIPSN KLHK).

Dampak sampah laut sangat luas: merusak ekosistem terumbu karang dan padang lamun; mengancam penyu, lumba-lumba, paus, dan berbagai biota laut yang menelan plastik; mikroplastik masuk ke rantai makanan dan berpotensi membahayakan kesehatan manusia; menurunkan kualitas pariwisata pantai dan sektor perikanan; serta memperparah risiko banjir akibat penyumbatan saluran air.

Penyebab utama sampah laut antara lain penggunaan plastik sekali pakai yang berlebihan, rendahnya kesadaran pengelolaan sampah, kurangnya fasilitas pengelolaan di beberapa daerah, kebiasaan membuang sampah ke sungai dan pantai, serta aktivitas perikanan dan pelayaran.

Penanganan sampah laut membutuhkan kolaborasi semua pihak: mengurangi plastik sekali pakai, memperkuat program bank sampah, meningkatkan daur ulang, edukasi lingkungan sejak dini, aksi bersih pantai dan sungai secara rutin, serta penegakan regulasi pembuangan limbah ke badan air.

Penyelesaian masalah ini tidak dapat dilakukan oleh pemerintah saja. Setiap individu memiliki peran penting melalui kebiasaan sederhana seperti membawa tumbler dan tas belanja sendiri, memilah sampah dari rumah, dan berpartisipasi aktif dalam gerakan peduli lingkungan.