Program Kolaborasi BSI dan Bappeda Kabupaten Tangerang Mampu Serap 4 Ton Sampah Anorganik
Tigaraksa Bumi Pertiwi Asri - Program pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular yang dipelopori oleh Bappeda Kabupaten Tangerang dan diterapkan langsung di Kecamatan Kelapa Dua telah memberikan dampak yang cukup signifikan.
Meskipun belum genap setahun berjalan, program tersebut mampu menyerap sekitar 4 ton sampah anorganik selama periode Januari hingga Maret 2026. Rinciannya meliputi sampah plastik 1.171,75 kg, sampah kertas 1.950,57 kg, sampah logam 287,7 kg, dan sampah tanpa kategori 82,47 kg.
Capaian ini disampaikan oleh PIC Bank Sampah Induk (BSI) Kabupaten Tangerang, Alfrizal Sofyanti, dalam evaluasi program ekonomi sirkular bersama Bappeda, para lurah, dan para ecopioner dari lima kelurahan di Kecamatan Kelapa Dua pada Selasa, 12 Mei 2026.
Alfriza sekaligus Community Development Yayasan Bumi Pertiwi Asri yang menaungi Bank Sampah Induk (BSI) Kabupaten Tangerang mengatakan program kolaboratif ini mengintegrasikan peran Pemerintah Kabupaten Tangerang, pihak kecamatan, akademisi, sektor swasta, serta jejaring bank sampah untuk mengubah sampah menjadi sumber daya bernilai ekonomi.
- Bappeda Kabupaten Tangerang sebagai inisiator penyusun kebijakan keberlanjutan
- Pemerintah Kecamatan Kelapa Dua sebagai koordinator bagi lurah, kepala desa, dan pengelola bank sampah tingkat RW
- Center for Sustainability and Waste Management Universitas Indonesia (CSWM UI) sebagai mitra akademik yang menyediakan metode, edukasi, dan pendampingan pengelolaan sampah sirkular
- BSI sebagai wadah pengumpulan, pemilahan, dan transaksi bernilai guna bagi sampah anorganik warga
"Program ini berfokus pada penyelesaian masalah sampah langsung dari sumbernya," jelas Alfriza.
Dalam rapat evaluasi tersebut, para ecopioner di tingkat RW juga mengusulkan agar pengelolaan sampah tidak hanya berhenti pada sampah anorganik, tetapi juga diperluas ke sampah organik. Mereka meminta BSI berkoordinasi dengan Bappeda untuk menyiapkan komposter di setiap RW pada masing-masing kelurahan.
"Kami harap institusi bisa merespon. Bagaimana kami diajak ubah mindset tapi infrastruktur tidak ada? Bappeda bisa membantu ini karena komposter itu kebutuhan mendesak," kata Pak Edy, penggerak bank sampah Kelurahan Bencongan.
Selain itu, para ecopioner juga berharap pemerintah segera menyiapkan lokasi TPS3R di wilayah Kecamatan Kelapa Dua. Kebutuhan ini dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan program pengelolaan sampah, mengingat warga Kelapa Dua saat ini belum memiliki lokasi yang memadai untuk TPS3R.